Andragogi
Konsep Pembelajaran Orang Dewasa
Abstrak
Membangun manusia pembangunan dapat terjadi
kalau diberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pendidikan orang
dewasa, sebab proses pembe1ajaran ini harus dikembangkan dengan cepat sesuai
dengan lajunya pembangunan bangsa. Ulasan di seputar pendidikan di sekolah
sudah sangat sering didiskusikan dengan herbagai kebijakan yang ditetapkan oleh
pemerinah, akan tetapi di lapangan, tidak sedikit orang dewasa yang harus
mendapat pendidikan baik melalui pendidikan melalui jalur sekolah maupun
pendidikan luar sekolah, misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan,
kursus-kursus, penataran dan sebagainya. Untuk membelajarkan orang dewasa
melalui pendidikan orang dewasa dapat dilakukan dengan berhagai metoda dan
strategi yang diperlukannya. Dalam hal ini, orang dewasa sebagai siswa dalam
kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang
sedang duduk di bangku sekolah tradisional. OIeh sebab ilu, harus dipahaini
bahwa, orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep
diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak
menuju ke arah kemandirian atau pengarahan diri sendiri.
Kata kunci: Cara pembelajaran orang dewasa, pendidikan sekolah, pendidikan luar
sekolah, kemandirian, pengarahan diri sendiri.
- Pendahuluan
Salah satu aspek penting dalam pendidikan saat ini yang penlu
mendapat perhatian adalah mengenai konsep pendidikan untuk orang dewasa. Tidak
selamanya kita berbicara dan mengulas di seputar pendidikan murid sekolah yang
relatif berusia muda. Kenyataan di lapangan, hahwa tidak sedikit orang dewasa
yang harus mendapat pendidikan baik pendidikan informal maupun nonformal,
misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan, kursus-kursus, penataran dan
sebagainya. Masalah yang sering muncul adalah bagaimana kiat, dan strategi
membelajarkan orang dewasa yang notabene tidak menduduki bangku sekolah. Dalam
hal ini, orang dewasa sebagai siswa dalam kegiatan helajar tidak dapat
diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah
tradisional. Oleh sebab itu, harus dipahami bahwa, orang dewasa yang tumbuh
sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari
ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah
kemandirian atau pengarahan diri sendiri. Kematangan psikologi orang dewasa
sebagai pribadi yang mampu mengarahkan diri sendiri ini mendorong timbulnya
kebutuhan psikologi yang sangat dalam yaitu keinginan dipandang dan
diperlakukan orang lain sebagai pribadi yang mengarahkan dirinya sendiri, bukan
diarahkan, dipaksa dan dimanipulasi oleh orang lain. Dengan begitu apabila
orang dewasa menghadapi situasi yang tidak memungkinkan dirinya menjadi dirinya
sendiri maka dia akan merasa dirinya tertekan dan merasa tidak senang. Karena
orang dewasa bukan anak kecil, maka pendidikan bagi orang dewasa tidak dapat
disamakan dengan pendidikan anak sekolah. Perlu dipahami apa pendorong hagi
orang dewasa belajar, apa hambatan yang dialaininya, apa yang diharapkannya,
bagaimana ia dapat belajar paling baik dan sebagainya (Lunandi, 1987).
Pemahaman terhadap perkembangan kondisi psikologi orang dewasa tentu
saja mempunyai arti penting bagi para pendidik atau fasilitator dalam
mnenghadapi orang dewasa sebagai siswa. Berkembangnya pemahaman kondisi
psikologi orang dewasa semacam itu tumbuh dalam teori yang dikenal dengan nama
andragogi. Andragogi sebagai ilmu yang memiliki dimensi yang luas dan mendalam
akan teori belajar dan cara mengajar. Secara singkat teori ini memberikan
dukungan dasar yang esensial bagi kegiatan pembelajaran orang dewasa. Oleh
sebab itu, pendidikan atau usaha pembelajaran orang dewasa memerlukan
pendekatan khusus dan harus memiliki pegangan yang kuat akan konsep teori yang
didasarkan pada asumsi atau pemahaman orang dewasa sebagai siswa.
Kegiatan pendidikan baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah
memiliki daerah dan kegiatan yang beraneka ragam. Pendidikan orang dewasa
terutama pendidikan masyarakat bersifat non formal sebagian besar dari siswa
atau pesertanya adalah orang dewasa, atau paling tidak pemuda atau remaja. Oleh
sebab itu, kegiatan pendidikan memerlukan pendekatan tersendiri. Dengan
menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha pembelajaran orang dewasa dalam
kerangka pembangunan atau realisasi pencapaian cita-cita pendidikan seumur
hidup dapat diperoleh dengan dukungan konsep teoritik atau penggunaan teknologi
yang dapat dipertanggung jawabkan. Salah satu masalah dalam pengertian
andragogi adalah adanya pandangan yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu
bersifat mentransmisikan pengetahuan. Tetapi di lain pihak perubahan yang
terjadi seperti inovasi dalam teknologi, mobilisasi penduduk, perubahan sistem
ekonomi, dan sejenisnya begitu cepat terjadi. Dalam kondisi seperti ini, maka
pengetahuan yang diperoleh seseorang ketika ia berumur 21 tahun akan menjadi
usang ketika ia berumur 40 tahun. Apabila demikian halnya, maka pendidikan
sebagai suatu proses transmisi pengetahuan sudah tidak sesuai dengan kebutuhan
modem (Arif, 1994). Oleh karena itu, tujuan dan kajian/tulisan ini adalah untuk
mengkaji berbagai aspek yang mungkin dilakukan dalam upaya membelajarkan orang
dewasa (andragogi) sebagai salah satu altematif pemecahan masalah kependidikan,
sebab pendidikan sekarang ini tidak lagi dirumuskan hanya sekedar sebagai upaya
untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi dirumuskan sebagai suatu proses
pendidikan sepanjang hayat (long life education).
- Kajian Teori
- Pengertian Andragogi
Andragogi berasal dan bahasa Yunani andros artinya orang dewasa, dan
agogus artinya memimpin. lstilah lain yang kerap kali dipakai sebagai
perbandingan adalah pedagogi yang ditarik dan kata paid artinya anak dan agogus
artinya memimpin. Maka secara harfiah pedagogi herarti seni dan pengetahuan
mengajar anak. Karena itu, pedagogi berarti seni atau pengetahuan mengajar
anak, maka apabila memakai istilah pedagogi untuk orang dewasa jelas kurang
tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Sementara itu, menurut
(Kartini Kartono, 1997), bahwa pedagogi (lebih baik disebut sebagai androgogi,
yaitu ilmu menuntun/mendidik manusia; aner, andros = manusia; agogus =
menuntun, mendidik) adalah ilmu membentuk manusia; yaitu membentuk kepribadian
seutuhnya, agar ia mampu mandiri di tengah lingkungan sosialnya. Pada banyak
praktek, mengajar orang dewasa dilakukan sama saja dengan mengajar anak.
Prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat
diberlakukan bagi kegiatan pendidikan orang dewasa. Hampir semua yang diketahui
mengenai belajar ditarik dari penelitian belajar yang terkait dengan anak.
Begitu juga mengenai mengajar, ditarik dari pengalaman mengajar anak-anak
misalnya dalam kondisi wajib hadir dan semua teori mengenai transaksi guru dan
siswa didasarkan pada suatu difinisi pendidikan sebagai proses pemindahan
kebudayaan. Namun, orang dewasa sebagai pribadi yang sudah matang mempunyai
kebutuhan dalam hal menetapkan daerah belajar di sekitar problem hidupnya. Kalau
ditarik dari pengertian pedagogi, maka andragogi secara harfiah dapat diartikan
sebagai seni dan pengetahuan mengajar orang dewasa. Namun, karena orang dewasa
sebagai individu yang dapat mengarahkan diri sendiri, maka dalam andragogi yang
lebih penting adalah kegiatan belajar dari peserta didik bukan kegiatan
mengajar guru. Oleh karena itu, dalam memberikan definisi andragogi lebih
cenderung diartikan sebagai seni dan pengetahuan membelajarkan orang dewasa.
- Kebutuhan Belajar Orang Dewasa.
Pendidikan orang dewasa
dapat. diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan,
mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan
dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam
rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di
sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang
membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya
khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau
keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi
mampu mengem-bangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan
keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonoini, dan teknologi
secara bebas, seimbang dan berkesinambungan. Dalam hal ini, terlihat adanya
tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangankan dalam aktivitas
kegiatan di lapangan, pertama untuk mewujudkan pencapaian perkemhangan setiap
individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya
(partisipasinya) dalam aktivitas sosial dan setiap individu yang bersangkutan.
Begitu pula pula, bahwa pendidikan orang dewasa mencakup segala aspek
pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa baik pria maupun wania,
sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing. Dengan demikian hal
tersebut dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran orang
dewasa yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian
kemampuan/keterampilan yang memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan
dengan individu lain akan dapat belajar hersama dengan penuh keyakinan.
Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan, merupakan hasil
dan adanya perubahan setelah adanya proses belajar, yakni proses perubahan
sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi peruhahan kepercayaan diri secara
penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya. Perubahan penilaku
terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan
serta adanya perubalian sikap mental yang sangat jelas, dalam hal pendidikan orang
dewasa tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus
dihekali juga dengan rasa percaya yang kuat dalam prihadiriya. Pertambahan
pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan
perubahan ke arah positif herupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental
secara nyata, menyeluruh dan berkesinambungan. Perubahan perilaku bagi orang
dewasa terjadi melalui adanya proses pendidikan yang berkaitan dengan
perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam hal ini, sangat memungkinkan
adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan diri
sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain, disehabkan produktivitas yang
lebih meningkat. Bagi orang dewasa pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar, sehingga
setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih kearah usaha pemenuhan
kebutuhan lain yang lebih diperlukannya sebagai penyempumaan hidupnya.
Setiap individu wajib terpenuhi kebutuhannya yang paling dasar (sandang dan
pangan), sebelum ia mampu merasakan kehutuhan yang lebih tinggi sebagai
penyempumaan kebutuhan dasar tadi, yakni kehutuhan keamanan, penghargaan, harga
diri, dan aktualisasi dirinya. Bilamana kebutuhan paling dasar yakni kebutuhan
fisik berupa sandang, pangan, dan papan belum terpenuhi, maka setiap individu
belum membutuhkan atau merasakan apa yang dinamakan sebagai harga diri. Setelah
kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka setiap individu perlu rasa aman jauh dan
rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya, sebab ketidakamanan
hanya akan melahirkan kecemasan yang herkepanjangan. Kemudian kalau rasa aman
telah terpenuhi, maka setiap individu butuh penghargaan terhadap hak azasi
dirinya yang diakui oleh setiap individu di luar dirinya. Jika kesemuanya itu
terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai harga diri.
Dalam kaitan ini,
tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan dirinya
membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajamya.
Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta
kegiatan pendidikan/pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat
ditentukan kondisi belajar yang harus disediakan, isi materi apa yang harus
diberikan, strategi, teknik serta metode apa yang cocok digunakan. Menurut Lunandi
(1987) yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa yang
dipetajari pelajar, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir
yang dinilai adalah apa yang diperoleh orang dewasa dan pertemuan
pendidikan/pelatihan, bukan apa yang dilalukukan pengajar, pelatih atau
penceramah dalam pertemuannya.
- Prinsip Pendidikan Orang Dewasa
Pertumbuan orang dewasa
dimulai pertengahan masa remaja (adolescence) sampai dewasa, di mana setiap
individu tidak hanya memiliki kecenderungan tumbuh kearah menggerakkan diri
sendiri tetapi secara aktual dia menginginkan orang lain memandang dirinya
sebagai prihadi yang mandiri yang memiliki identitas diri. Dengan begitu orang
dewasa tidak menginginkan orang memandangnya apalagi memperlakukan dirinya
seperti anak-anak. Dia mengharapkan pengakuan orang lain akan otonomi dirinya,
dan dijamin kelentramannya untuk menjaga identitas dirinya dengan penolakan dan
ketidaksenangan akan usaha orang lain untuk menekan, memaksa, dan manipulasi
tingkah laku yang ditujukan terhadap dirinya. Tidak seperti anak-anak yang
beberapa tingkatan masih menjadi objek pengawasan, pengendalian orang lain
yaitu pengawasan dan pengendalian orang dewasa yang berada di sekeliling,
terhadap dirinya. Dalam kegiatan pendidikan atau belajar, orang dewasa bukan
lagi menjadi obyek sosialisasi yang seolah-olah dibentuk dan dipengaruhi untuk
menyesuaikan dirinya dengan keinginan memegang otoritas di atas dirinya
sendiri, akan tetapi tujuan kegiatan belajar alau pendidikan orang dewasa
tentunya lehih mengarah kepada pencapaian pemantapan identitas dirinya sendiri
untuk menjadi dirinya sendiri,--- istilah Rogers dalam Knowles (1979), kegiatan
belajar bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemuan
jati dirinya. Dalam hal belajar atan pendidikan merupakan prosess of becoining
a person. Bukan proses pembentukan atau process of being shaped yaitu proses
pengendalian dan manipulasi untuk sesuai dengan orang lain; atau kalau meminjam
istilah Maslow (1966), belajar merupakan proses untuk mencapai aktualiasi diri
(self-uchuslizatiun). Seperti telah dikemukakan diatas hahwa dalam diri orang
dewasa sebagai siswa yang sudah tumbuh kematangan konsep dirinya timbul
kebutuhan psikologi yang mendalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan
orang lain sebagai pribadi utuh yang mengarahkan dirinya sendiri. Namun tidak
hanya orang dewasa tetapi juga pemuda atau remaja juga memiliki kebuluhan
semacam itu. Sesuai teori Peaget (1959) mengenai perkembangan psikologi dan
kurang lebih 12 tahun ke atas individu sudah dapat berfikir dalam bentuk dewasa
yaitu dalam istilah dia sudah mencapai perkembangan pikir formal operation.
Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat memecahkan segala
persoalan secara logik, berlikir secara ilmiah, dapat memecahkan
masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah tercapai
kematangan struktur kognitifnya.
Dalam periode ini individu mulai mengembangkan pengertian akan diri (self) atau
identitas (identitiy) yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di
sekitamya. Berbeda dengan anak-anak, di sini remaja (adolescence) tidak hanya
dapat mengerti keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan
benda-benda itu di duga. Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan
dan membanding-bandingkan Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan
dengan nilai yang aktual. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah
tingkatan kehidupan dimana proses semacam itu terjadi, dan ini berjalan terus
sampai mencapai kematangan.
Dengan begitu jelaslah kiranya bahwa pemuda (tidak hanya orang dewasa) memiliki
kemampuan memikirkan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang
bertentangan antara nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain. Oleh
karena itu, dapat dikatakan sejak pertengahan masa remaja individu
mengembangkan apa yang dikatakan “pengertian diri” (sense of identity). Selanjutnya,
Knowles (1970) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yang
berbeda dengan pedagogi. Keempat asumsi pokok itu adalah sebagai berikut.
Asumsi Pertama, seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dan
ketergantungan total menuju ke arah pengarahan diri sendiri. Atau secara
singkat dapat dikatakan pada anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang
pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian konsep
dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia
yang dapat mengarahkan diri sendiri. Apabila dia menghadapi situasi dimana dia
tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing maka akan timbul reaksi tidak
senang atau menolak. Asumsi kedua, sebagaimana individu tumbuh matang akan
mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya
menjadi sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar
yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu, dalam teknologi
andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai
dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman
(experimental-technique). Maka penggunaan teknik diskusi, kerja laboratori,
simulasi, pengalaman lapangan, dan lainnya lebih banyak dipakai.
Asumsi ketiga, bahwa pendidikan itu secara langsung atau tidak langsung, secara
implisit atau eksplisit, pasti memainkan peranan besar dalam mempersiapkan anak
dain orang dewasa untuk memperjuangkan eksistensinya di tengah masayarakat.
Karena itu, sekolah dan pendidikan menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses
integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah masyarakat (Kartini Kartono,
1992). Sejalan dengan itu, kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang,
maka kesiapan untuk belajar kurang dilentukan oleh paksaan akademik dan
perkembangan biologisnya, tetapi lehih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas
perkembangan untuk melakukan peranan sosialnya. Dengan perkataan lain, orang
dewasa belajar sesuatu karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang
harus menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pimpinan suatu
organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena
paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas
peran sosialnya.Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah
merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya.
- Kondisi Pembelajaran Orang
Dewasa
Pembelajaran yang
diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat pada
ingatannya), bilamana pembimbing (pelatih, pcngajar, penatar, instruktur, dan
sejenisnya) tidak terlalu mendoininasi kelompok kelas, mengurangi banyak
bicara, namun mengupayakan agar individu orang dewasa itu mampu menemukan
altematif-altematif untuk mengembangkan kepribadian mereka. Seorang pembimbing
yang baik harus berupaya untuk banyak mendengarkan dan menerima gagasan
seseorang, kemudian menilai dan menjawab pertanyaan yang diajukan mereka. Orang
dewasa pada hakekalnya adalah makhluk yang kreatif bilamana seseorang mampu
menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam upaya ini,
diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran
tersebut. Di samping itn, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila
mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran, terutama apabila
mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa
berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Artinya, orang
dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadiriya dihormati, dan akan
lebih senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide
pikirannya, daripada pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri
kepada mereka. Oleh karena sifat belajar hagi orang dewasa adalah hersifat
subjektif dan unik, maka terlepas dan benar atari salahnya, segala pendapat
perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak
menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan
mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang
dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dart pembimbingnya, dan pada akhimya
mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaan diri
tersebut maka suasana belajar yang kondusif tak akan pemah terwujud. Orang
dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian
yang berheda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat
mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun
mereka saling herbeda pendapat. Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa
dalam suasana/ situasi belajar yang hagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat
dan boleh berbuat salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu sanksi
(dipermalukan, pemecatan, cemoohan, dll).
Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam
mengembangkan potensi pribadiriya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan.
Sifat keterbukaan untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan
gagasan, akan berdampak baik bagi kesehatan psikologis, dan pisis mereka. Di
samping itu, harus dihindari segala bentuk akibat yang membuat orang dewasa
mendapat ejekan, hinaan, atau diperma1ukan. Jalan terbaik hanyalah
diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga berbagai altematif
kebebasan mengemukakan ide/ gagasan dapat diciptakan. Dalam hal lainnya, tidak
dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar sccara khas dan unik. Faktor
tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui
sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus
selalu sama dengan pribad i orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu
harus sama dalam prihadi, sebab akan sangat membosankan kalau saja suasana yang
seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa adanya kritik yang memperlihatkan
perbedaan tersehut. Oleh sebab itu, latar belakang pendidikan, latar helakang
kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi
wama yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil. Bagi orang dewasa,
terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang
mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, herani tampil beda, dapat berlaku
dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh.
Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan, namun
kesalahan, dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dan belajar. Pada
akhimya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu.
Bagi orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan
dirinya. Dengan demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh
anggota kelompok dirasakannya herharga untuk bahan renungan, di mana renungan
itu dapat mengevaluasi dirinya dan orang lain yang persepsinya bisa saja
memiliki perbedaan
- Pengaruh Penurunan Faktor Fisik
Oraug Dewasa dalam Belajar
Proses belajar manusia
berlangsung hingga ahkir hayat (long life education). Namun, ada korelasi
negatif antara pertarubahan usia dengan kemampuan belajar orang dewasa.
Artinya, setiap individu orang dewasa, makin bertambah usianya, akan semakin
sukar baginya belajar (karena semua aspek kemampuan fisiknya semakin menurun).
Misalnya daya ingat, kekuatan fisik, kemampuan menalar, kemampuan
berkonsentrasi, dan lain-lain semuanya memperlihatkan penurunannya sesuai
pertambahan usianya pula. Menurut Lunandi (1987), kemajuan pesat dan
perkembangan berarti tidak diperoleh dengan menantikan pengalaman melintasi
hidup saja. Kemajuan yang seimbang dengan perkembangan zaman harus dicari
melalui pendidikan. Menurut Vemer dan Davidson dalam Lunandi (1987) ada enam
faktor yang secara psikologis dapat menghambat keikutsertaan orang dewasa dalam
suatu program pendidikan:
1.
Dengan bertambahnya usia, titik
dekat penglilhatan atau titik terdekat yang dapat dilihat secara jelas mulai
hergerak makin jauh. Pada usia dua puluh tahun seseorang dapat melihat jelas
suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya. Sekitar usia empat puluh fahun titik
dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23 cm.
2.
Dengan bertambahnya usia, titik
jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat dilihat secara jelas mulai
berkurang, yakni makin pendek. Kedua faktor ini perlu diperhatikan dalam
pengadaan dan penggunaan bahan dan alat pendidikan.
3.
Makin bertambah usia, makin
besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu situasi belajar. Kalau
seseorang pada usia 20 tahun memerlukan 100 Watt cahaya1 maka pada usia 40
tahun diperlukan 145 Watt, dan pada usia 70 tahun seterang 300 Watt baru cukup
untuk dapat melihat dengan jelas.
4.
Makin bertambah usia, persepsi
kontras warna cenderung ke arah merah daripada spektrum. Hal ini disebabkan
oleh menguningnya komea atau lensa mata, sehingga cahaya yang masuk agak
terasing. Akibatnya ialah kurang dapat dibedakannya warna-warna lenmbut. Untuk
jelasnya perlu digunakan warna-warna cerah yang kontras untuk alat-alat peraga.
5.
Pendengaran atau kemampuan
menerima suara mengurang dengan bertambahnya usia. Pada umumnya seseorang
mengalami kemunduran dalam kemampuannya membedakan nada secara tajam pada tiap
dasawarsa dalam hidupnya. Pria cenderung lebih cepat mundur dalam hal ini
daripada wanita. Hanya 11 persen dan orang berusia 20 tahun yang mengalami
kurang pendengaran. Sampai 51 persen dan orang yang berusia 70 tahun ditemukan
mengalami kurang pendengaran.
6.
Pemhedaan bunyi atau kemampuan
untuk membedakan bunyi makin mengurang dengan bertambahnya usia. Dengan demikian,
bicara orang lain yang terlalu cepat makin sukar ditangkapnya, dan hunyi
sampingan dan suara di latar belakangnya bagai menyatu dengan bicara orang.
Makin sukar pula membedakan bunyi konsonan seperti t, g, b, c, dan d. Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan orang dewasa dalam situasi belajar
mempunyai sikap tertentu, maka purlu diperhatikan hal-hal tersebut di bawah
ini:
7.
Terciptanya proses belajar
adalah suatu prose pengalaman yang ingin diwujudkan oleh setiap individu orang
dewasa. Proses pembelajaran orang dewasa berkewajiban memotivasi/mendorong
untuk mencari pengetahuan yang lebih tinggi.
8.
Setiap individu orang dewasa
dapat belajar secara efektif bila setiap individu mampu menemukan makna pribadi
bagi dirinya dan memandang makna yang baik itu berhubungan dengan keperluan
pribadinya.
9.
Kadangkala proses pembelajaran
orang dewasa kurang kondusif, hal ini dikarenakan belajar hanya diorientasikan
terhadap peruhahan tingkah laku, sedang perubahan perilaku saja tidak cukup,
kalau perubahan itu tidak mampu menghargai hudaya bangsa yang luhur yang harus
dipelihara, di samping metode berpikir tradisional yang sukar diubah.
10.
Proses pembelajaran orang
dewasa merupakan hal yang unik dan khusus serta bersifat individual. Setiap
individu orang dewasa memiliki kiat dan strategi sendiri untuk memperlajari dan
menemukan pemecahan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran tersebut. Dengan
adanya peluang untuk mengamati kiat dan strategi individu lain dalam belajar,
diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan menyempurnakan caranya sendiri dalam
belajar, sebagai upaya koreksi yang lebih efeklif.
11.
Faktor pengalaman masa lampau
sangat berpengaruh pada setiap tindakan yang akan dilakukan, sehingga
pengalaman yang baik perlu digali dan ditumbuhkembangkan ke arah yang lebih
bermanfaat.
12.
Pengembangan intelektualitas
seseorang melalui suatu proses pengalaman secara bertahab dapat diperluas.
Pemaksimalan hasil belajaran dapat dicapai apabila setiap individu dapat
memperluas jangkauan pola herpikimya.
Di satu sisi, helajar
dapat diartikan sebagai suatu proses evolusi. Artinya penerimaan ilmu tidak
dapat dipaksakan sekaligus begitu saja, tetapi dapat dilakukan secara bertahap
melalui suatu urutan proses tertentu. Dalam kegiatan pendidikan, umumnya
pendidik menentukan secara jauh mengenai materi pengetahuan dan keterampilan
yang akan disajikan. Mereka mengatur isi (materi) ke dalam unit-unit, kemudian
memilih alat yang paling efisien untuk menyanipaikan unit-unit dan materi
tersebut, misalnya ceramah, membaca, pekerjaan laboratorium, film,, mendengar
kaset dan lain-lain. Selanjutnya mengembangkan suatu rencana untuk menyampaikan
unit-unit isi ini dalam suatu hentuk urutan. Dalam andragogi, pendidik atau
fasilitator mempersiapkan secara jauh satu perangkat prosedur untuk melibatkan
siswa, untuk selanjutnya dalam prosesnya melibatkan elemen-elemen sebagai
berikut: (a) menciptakan iklim yang mendukung belajar, (b) menciptakan
mekanisme untuk perencanaan bersama, (c) diagnosis kehutuhan-kebutuhan belajar,
(d) merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar,
(e) merencanakan pola pengalaman helajar, (f) melakukan pengalaman helajar ini
dengan teknik-teknik dan materi yang memadai, dan (g) mengevaluasi hasil
belajar dan mendiagnosa kembali kebutuhankebutuhan belajar.
- Metode Pendidikan Orang Dewasa
Dalam pembelajaran orang
dewasa banyak metode yang diterapkan. Untuk memberhasilkan pembelajaran semacam
ini, apapun metode yang diterapkan seharusnya mempertimbangkan faktor sarana
dan prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran, yakni
agar peserta dapat memiliki suatu pengalaman belajar yang bermutu. Merupakan
suatu kekeliruan besar bilamana dalam hal ini, pembimbing secara kurang wajar
menetapkan pemanfaatan metode hanya karena faktor pertimbangannya sendiri yakni
menggunakan metode yang dianggapnya paling mudah, atau hanya disebabkan karena
keinginannya dikagumi oleh peserta di kelas itu ataupun mungkin ada
kecenderungannya hanya menguasai satu metode tertentu saja. Penetapan pemilihan
metode seharusnya guru mempertimbangkan aspek tujuan yang ingin dicapai, yang
dalam hal ini mengacu pada garis besar program pengajaran yang dibagi dalam dua
jenis:
1.
Rancangan proses untuk
mendorong orang dewasa mampu menata dan mengisi pengalaman baru dengan
memmedomani masa lampau yang pernah dialami, misalnya dengan latihan
keterampilan, melalui tanya jawab, wawancara, konsultasi, latihan kepekaan, dan
lain-lain, sehingga mampu memberi wawasan baru pada masing-masing individu
untuk dapat memanfaatkan apa yang sudah diketahuinya.
2.
Proses pembelajaran yang
dirancang untuk tujuan meningkatkan transfer pengetahuan baru, pengalaman baru,
keterampilan baru, untuk mendorong masing-masing individu orang dewasa dapat
meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan yang diinginkannya, apa yang menjadi
kebutuhannya, keterampilan yang diperlukannya, misalnya belajar menggunakan
program komputer yang dibutuhkan di tempat ia bekerja.
Sejalan dengan itu, orang
dewasa belajar lebih efektif apabila ia dapat mendengarkan dan berbicara. Lebih
baik lagi kalau di samping itu ia dapat melihat pula, dan makin efektif lagi
kalau dapat juga mengerjakan. Fungsi bicara hanya sedikit terjadi pada waktu
tanya jawab. Untuk metode diskusi bicara dan mendengarkan adalah seimbang.
Dalam pendidikan dengan cara demonstrasi, peserta sekaligus mendengar, melihat
dan berbicara. Pada saat latihan praktis peserta dapat mendengar, berbicara,
melihal dan mengerjakan sekaligus, sehingga dapat diperkirakan akan menjadi
paling efektif,
- Implikasi Terhadap Pembelajaran
Orang Dewasa
Usaha-usaha ke arah
penerapan teori andragogi dalam kegiatan pendidikan orang dewasa telah
dicobakan oleh beberapa ahli, berdasarkan empat asumsi dasar orang dewasa
seperti telah dijelaskan di atas yaitu: konsep diri, akumulasi pengalaman,
kesiapan belajar, dan orientasi belajar. Asumsi dasar tersebut dijabarkan dalam
proses perencanaan kegiatan pendidikan dengan langkah-langkah sehagai berikut:
1.
Menciptakan suatu struktur
untuk perencanaan bersama. Secara ideal struktur semacam ini seharusrwa
melibatkan semua pihak yang akan terkenai kegiatan pendidikan yang
direncanakan, yaitu termasuk para peserta kegiatan belajar atau siswa, guru
atau fasilitator, wakil-wakil lembaga dan masyarakat.
2.
Menciptakan iklim belajar yang
mendukung untuk orang dewasa belajar. Adalah sangat penting menciptakan iklim
kerjasama yang menghargai antara guru dan siswa. Suatu iklim belajar orang
dewasa dapat dikembangkan dengan pengaturan lingkungan phisik yang memberikan
kenyamanan dan interaksi yang mudah, misalnya mengatur kursi atau meja secara
melingkar, bukan berbaris-berbaris ke helakang. Guru lebih bersifat membantu
bukan menghakimi.
3.
Diagnosa sendiri kebutuhan
belajamya. Diagnosa kebutuhari harus melibatkan semua pihak, dan hasilnya
adalah kehutuhan bersama.
4.
Formulasi tujuan. Agar secara
operasional dapat dikerjakan maka perumusan tujuan itu hendaknya dikerjakan
bersama-sama dalam deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut diatas.
5.
Mengembangkan model umum. ini
merupakan aspek seni dan perencanaan program, dimana harus disusun secara
harmonis kegiaan belajar dengan membuat kelompok-kelompok belajar baik kelompok
besar maupun kelompok kecil.
6.
Perencanaan evaluasi. Seperi
halnya dalam diagnosa kebutuhan, dalam evaluasi harus sejalan dengan prinsip-prinsip
orang dewasa, yaitu sebagai pribadi dan dapat mengarahkan diri sendiri. Maka
evaluasi lebih bersifat evaluasi sendiri atau evaluasi hersama.
Aplikasi yang diuaraikan
di atas sebenamya lebih bersifat prinsip-prinsip atau rambu-rambu sebagai
kendali tindakan membelajarkan orang dewasa. Oleh karena itu, keberhasilannya
akan lebih benyak lergantung pada setiap pelaksanaan dan tentunya juga
tergantung kondisi yang dihadapi. Tapi, implikasi pengembangan teknologi atau
pendekatan andragogi dapat dikaitkan terhadap penyusunan kurikulum atau cara
mengajar terhadap mahasiswa. Namun, karena keterikatan pada sistem lembaga yang
biasanya berlangsung, maka penyusunan program atau kurikulum dengan menggunakan
andragogi akan banyak lebih dikembangkan dengan menggunakan pendekatan
andragogi ini.
- Kesimpulan dan Saran
- Kesimpulan
Pendidikan atau belajar
adalah sebagai proses menjadi dirinya sendiri (process of becoining) bukan
proses untik dibentuk (proces of beings Imped) nunurut kehendak orang lain,
maka kegiatan belajar harus melihatkan individu atau client dalam proses
pemikiran apa yang mereka inginkan, mencari apa yang dapat dilakukan untuk
memenuhi keinginan itu, menentukan tindakan apa yang harus dilakukan, dan
merencanakan serta melakukan apa saja yang perlu dilakukan untuk mewujudkan
keputusan itu. Dapat dikatakan disini tugas pendidik pada umumnya adalah
menolong orang be1ajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur
urusan kehidupan mereka sendiri dan mempertimhangkan pandangan dan interest
orang lain. Dengan singkat menolong orang lain untuk berkemhang dan matang.
Dalam andragogi, keterlibatan orang dewasa dalam proses helajar jauh lehih
besar, sebab sejak awal harus diadakan suatu diagnosa kebutuhan, merumuskan
tujuan, dan mengevaluasi hasil belajar serta mengimplementasikannya secara
bersama-sama
- Saran
Pengembangan teknologi
andragogi hanya dapat dilakukan apabila diyakini bahwa orang dewasa sebagai
pribadi yang matang sudah dapat mengarahkan diri mereka sendiri, mengerti diri
sendiri, dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut dirinya. Tanpa
ada keyakinan semacam itu kiranya tidak akan tumbuh pendekatan andragogi.
Dengan kata lain andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan
ideal dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Bagi
pengambil kebijakan dalam hal pembelajaran orang dewasa diharapkan mampu
memberikan pertimbangan holistik ke arah pengembangan keterampilan dan
pemngkatan sumber daya orang dewasa yang berkualitas.